Mengapa manusia bersikap kritis terhadap Tuhannya?

By Dana Anwari. Nabi Ibrahim, contoh manusia yang bersikap kritis terhadap eksistensi Tuhannya. Tetapi sikap kritis Ibrahim as diimbangi dengan sikap mengiba rahmat Tuhannya. Kritisnya seorang Ibrahim bukan kritis yang dibarengi kesombongan kepada Tuhannya. Kritisnya seorang Ibrahim adalah cara berkomunikasi seseorang dengan Tuhannya demi menajamkan iman tauhidnya.

Setiap manusia mempunyai cara berkomunikasi dengan Allah, Tuhannya, dengan cara yang berbeda-beda. Seorang yang beriman berkomunikasi dengan cara mematuhi perintah dan larangan Tuhannya. Seorang kafir berkomunikasi dengan cara yang salah kepada "tiada Tuhan selain Allah". Seorang ateis berkomunikasi dengan cara tidak mensyukuri hidupnya dan tidak perduli akan firman-Nya.

Ketika seseorang bersikap kritis terhadap Tuhannya, sesungguhnya ia sedang berkomunikasi dengan cara mulai meragukan eksistensi Tuhannya untuk menuju kepada keyakinan iman yang penuh kepada "tiada Tuhan selain Allah".

Mengapa manusia bersikap kritis terhadap Allah?
Tidak salah bersikap kritis terhadap eksistensi Tuhan. Bukankah agama-Nya adalah agama akal yang mengajak orang berpikir untuk membuktikan kebenaran Tuhan Yang Maha Nyata, Ya Allah ya Dzaahir. Ingatlah wahyu-Nya dalam surat Al Baqarah ayat 269 Al Quran: “Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”

Bersikap kritis terhadap eksistensi Allah, tidaklah salah. Bukankah agama-Nya juga agama hati, yang mengajak orang membuka hatinya untuk membuktikan kehadiran Tuhan Yang Maha Gaib, Ya Allah ya Baathin.
Ingatlah sebait doa dalam Al Quran surat Ali Imran ayat 8: (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”

Dan ingatlah pula tentang hati yang mengambil suatu pelajaran dari satu peristiwa dalam Kitab Suci Al Quran surat Ali Imran ayat 13: Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.

Nabi Ibrahim adalah contoh orang yang kritis terhadap Tuhannya. Namun kritisnya seorang Ibrahim tetaplah dilandasi semangat iman kepada "tiada Tuhan selain Allah". Seperti tercatat di surat Ali Imran ayat 67 Al Quran: “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.”

Kendati bersikap kritis, Ibrahim as bukanlah termasuk orang yang sesat. Ia bersemangat mencari bukti kekuasaan Tuhan, tapi ia pun tidak pernah berputus asa mengharapkan rahmat Tuhannya. Seperti tercatat dalam Kitab Al Quran surat Al Hijr ayat 56: “Ibrahim berkata: Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat”.

Ingatkah kisah Nabi Ibrahim yang meminta Allah membuktikan eksistensi kekuasaan-Nya? Kemudian Allah mempersilakan Ibrahim mencincang burung dan meletakkan bagian-bagian tubuhnya di tempat berbeda, lalu burung itu dihidupkan lagi oleh Allah. Seperti tertera dalam Kitab Al Quran surat Al Baqarah ayat 260: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, ’Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.’
Allah berfirman: ‘Belum yakinkah kamu?’
Ibrahim menjawab: ‘Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).’
Allah berfirman: ‘(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cingcanglah semuanya olehmu.’
(Allah berfirman): ‘Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.’ Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”


Sikap Ibrahim yang menguji Allah dibalas Allah dengan menguji Ibrahim. Beruntunglah Ibrahim adalah seorang yang tulus kepada Tuhannya, sehingga sikap kritisnya tetap berlandaskan kepada iman kepada Tuhannya Yang Maha Esa dan Maha Menciptakannya.
Wahai orang-orang yang merasa kebenarannya akan mengalahkan kebenaran “tiada Tuhan selain Allah”, ingatkan firman-Nya dalam Al Quran surat Ali Imran ayat 54: “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”

Mengapa Allah pun bersikap kritis kepada manusia?
Allah itu memang senang menguji hamba-Nya untuk mengetahui keimanan seorang hamba kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Maidah ayat 48 Al Quran: Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.

Simaklah kisah Nabi Ibrahim as. Diperintahkan-Nya Ibrahim menyembelih anaknya, Ismail. Tapi Allah kemudian menggantikan Ismail dengan seekor binatang sembelihan, setelah Allah membuktikan ketaqwaan dua orang manusia: bapak dan anaknya. Sebagaimana dikisahkan Tuhan dalam Al Quran surat Ash Shaffaat ayat 102-107: Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”
Ia (Ismail) menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu.”
Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.


Wahai orang-orang yang kritis terhadap Tuhannya. Bila kamu bermimpi seperti mimpi Nabi Ibrahim, sanggupkah bila Tuhan mengujimu, menyembelih anakmu sendiri?
Kendati sanggup, kamu bukankah Nabi Ibrahim yang sanggup membedakan mana perintah Tuhan dan mana perintah setan? Apalagi bila hawa nafsumu masih hawa nafsu setan, dan bukannya hawa nafsu yang dirahmati Tuhan. Yakinkah kamu akan mimpimu yang berisi perintah menyembelih anakmu sendiri sungguh-sungguh datang dari Tuhan yang menciptakanmu?
Yakinkah kamu atas petunjuk mimpi yang menyuruh melukai anakmu sendiri benar-benar datang dari Tuhan yang menghidupkanmu dan akan mematikanmu? Sementara hatimu selama ini tertutup oleh keraguan eksistensi Tuhanmu. Bagaimana bila perintah itu datang dari setan yang mengelabui kamu?
Kamu memang berkomunikasi dengan cara kritis terhadap eksistensi Allah, tetapi sikap kritismu berbeda dengan sikap kritis Ibrahim as.
Ibrahim seorang yang kritis, tetapi dia bukanlah orang yang sombong. Apalagi bersikap sombong terhadap Allah Yang Satu tanpa sekutu. Ibrahim adalah seorang penyantun, dan juga seorang pengiba, yang mengiba kepada Tuhannya, dan Ibrahim selalu kembali tunduk patuh pasrah kepada Tuhannya: Ya Allah ya Aziz, Tuhan Yang Maha Perkasa.
Bacalah kitab yang menjadi pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini, yakni Kitab Al Quran dalam surat Hud ayat 75: “Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi pengiba dan suka kembali kepada Allah.”
sukseskomunikasi.blogspot.com
*
Read more…