Sebelum berkomunikasi dengan manusia, berkomunikasilah dengan Allah dan diri sendiri


By Dana Anwari. Berkomunikasilah dengan Allah karena Allah itu Maha Pencipta, Maka Pengasih, Maha Penyayang & Maha Menguasai. Allah tempat kita meminta agar kita dianugrahi nikmat-Nya, tidak dimurkai-Nya & dibimbing-Nya agar tidak sesat sebagai makluk sosial.
Al Quran, wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril adalah salah satu cara Allah berkomunikasi dengan kita.

Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi, (yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arasy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai asmaulhusna (nama-nama yang baik).

Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: “Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu”.

Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.

Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa”.

Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?

Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya”.

Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat.

Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu niscaya ia ke luar menjadi putih cemerlang tanpa cacad, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar.”

“Pergilah kepada Firaun; sesungguhnya ia telah melampaui batas”.

Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami”.

Allah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa.”
(QS Thaahaa: 1-36)

(Mûsâ) said: "O my Lord! Open for me my chest (grant me self-confidence, contentment, and boldness). And ease my task for me; And loose the knot (the defect) from my tongue, (i.e. remove the incorrectness from my speech) (That occurred as a result of a brand of fire which Mûsâ put in his mouth when he was an infant). (Tafsir At-Tabarî ). That they understand my speech. And appoint for me a helper from my family, Hârûn, my brother. Increase my strength with him, And let him share my task (of conveying Allâh’s Message and Prophethood). Verily You are Ever a Well-Seer of us. And remember You much, That we may glorify You much."
(Allâh) said: "You are granted your request, O Mûsâ!"

sukseskomunikasi.blogspot.com
*
Read more…

Ikhtiar komunikasi adalah menegakkan kebenaran kita yang bersandar kepada kebenaran Allah

By Dana Anwari. "La vérité vient de ton Seigneur. Ne sois donc pas de ceux qui doutent."

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.

"Dies ist die Wahrheit von deinem Herrn, darum sei nicht einer von denen, die daran zweifeln."

"La verdad viene de tu Señor, no seas de los que dudan."

"The Truth is from thy Lord so be not at all in doubt."
Begitu bunyi surat Al Baqarah ayat 147 kita baca dalam kumpulan wahyu Allah yang disampaikan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw yang disebut Al Quran.

Ikhtiar komunikasi adalah mencari kebenaran antarmanusia yang harus berujung kepada kebenaran Allah. Apabila ikhtiar komunikasi tidak disandarkan kepada kebenaran-Nya, maka dukungan atas pesan yang hendak dilaksanakan lebih dekat kepada kerugian (mudarat) dan bukannya bermanfaat (maslahat). Kerugiannya mungkin belum dirasakan dalam jangka pendek, tapi dalam jangka panjang pasti iya.

Berita bohong, desas-desus yang tidak sesuai dengan realitanya (fitnah) atau desas-desus yang sesuai dengan kenyaataan tapi disampaikan dengan maksud tidak baik (ghibah) adalah tindakan komunikasi yang lebh condong ke mudarat.

Untuk orang-orang yang khilaf hingga berbuat buruk dan dosa, mereka harus diberi kesempatan berkomunikasi memohon maaf kepada siapa pun yang disakitinya. Tidak perlu khilafnya disampaikan kepada siapa pun yang tidak disakitinya. Setelah itu, ia wajib memohon tobat kepada Allah dengan berdoa. Dan Allah akan senang bila orang yang khilaf itu tidak lagi melakukan kesalahan serupa dengan sengaja.
http://sukseskomunikasi.blogspot.com
*
Read more…